Pengelompokan kelas social yang terbagi saat ini
adalah kelas social atas dan kelas social bawah, dimana pembagian tersebut
tanpa disadari sangat terlihat mencolok, apalagi di dukung dengan tayangan-tayangan
di televisi yang semakin memperkuat perbedaan tersebut.
Tayangan di televisi yang sering mengangkat tema-tema kurang
mendidik cenderung akan merusak generasi penerus bangsa. Tayanga tersebut
banyak sekali yang mencerminkan tayanga-tayangan yang negative, contohnya
sinetron-sinetron yang sering menceritakan kehidupan-kehidupan yang cenderung
tidak masuk akal dan membuat para pemirsanya (anak-anak) ingin mengikuti
penampilan dan cerita yang ada, sehingga banyak bermunculan anak-anak yang bersikap
dan bertingkah laku tidak sesuai dengan etika dan norma-norma yang ada dalam
kehidupan bermasyarakat, karena pada penayangan sinetron tersebut itu yang di
munculkan.
Sehingga ketika
anak-anak tersebut tidak mampu memenuhi keinginan yang mereka lihat dari
televisi dan orang tua mereka pun tidak bisa memenuhinya maka banyak lha
terjadi kriminalitas dan peristiwa-peristiwa yang akhirnya merusak masa depan
generasi muda tersebut.
Oleh karena itu selaku orang tua harus sangat waspada
terhadap apa yang di tayangkan oleh televise agar kehidupan generasi muda kita
tidak hancur karena tayangan televise yang tidak mendidik dan kurang pengawasan
yang sangat ketat dari pemerintah , dimana dampaknya sangat merusak para
generasi muda kita.
Mengingat pada matakuliah konseling multikultur yang
saat sedang membahas kelas social, dimana kelas social itu bisa dibagi dalam 3
kategori yaitu kelas social bawah, kelas social menengah dan kelas social atas.
Adapun yang menjadi pembahasan menarik yaitu kelas
social atas dan bawah, oleh karena itu akan dilakukan pembahasan berupa
melakukan wawancara dengan klien yang berasal dari kelas atas dan kelas bawah.
Pada paparan kali ini saya mewawancarai kalangan kelas
bawah yang bernama Adam Suja, ia lahir dan di besarkan di lingkungan keluarga
yang memprihatinkan. Adam terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara,
walaupun ayah dan ibu adam hanya memiliki anak 3 namun kehidupan mereka sangat
memprihatinkan. Ayahnya adam bekerja hanya sebagai pendongeng panggilan,
sedangkan ibunya adam hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Seiringnya waktu
berjalan usia adam menjelang 15 tahun dan sedang duduk dibangku SMP ibunya adam memilih untuk pergi dari kehidupan
keluarga adam, karena ibunya sudah hampir setahun ini bekerja di asuransi yang
niatnya untuk membantu perekonomian keluarga, sehingga ibunya asik bekerja
hingga larut malam.
Awalnya adam merasa memang ibunya bekerja jadi tidak
ada yang harus di curigai, namun pada satu hari tersebut ibunya memutuskan
untuk meninggalkan suami dan ketiga anaknya. Ibunya adam tidak menitipkan pesan
atau member penjelasan secara terbuka kepada ketika anaknya. Sehingga sampai
saat ini adam tidak tahu persis alasan mengapa ibunya begitu saja
meninggalkannya.
Sampai beberapa bulan di tinggal ibunya, akhirnya
ayahnya adam jatuh sakit dan struk, semakin menambah kehidupan di keluarga adam
semakin sulit. Ibu pergi entah kemana
dan akan di cari kemana tidak tahu.
Keluarga dan tetangga hanya bisa mengucap kasihan dan
membantu keluarga alakadarnya. Pada saat itu adam akan menghadapi ujian kelas 9
(Ujian SMP). Namun adam tetap berusaha focus dan konsentarasi menghadapi ujian
tersebut, karena dengan begitu ini merupakan jalan untuk membantu meringankan
kehidupan dikeluarga, dan apabila mendapat sekolah negeri adam berjanji akan sekolah
yang benar dan sungguh-sunggu dan member pengobatan pada ayah yang sedang
sakit.
Kehidupan adam tersu berjalan dan Alhamdulillah saya
diterima disekolah negeri SMK Negeri 34 Jakarta jurusan multimedia. Dalam
menjalankan kehidupan saya selain membantu membereskan kegiatan di rumah,
walaupun sebagai anak laki-laki, tidak segan-segan saya untuk menyapu,
mengepel, mencuci pakaian, cuci piring dan sebagainya ketika saya sedang
dirumah, karena kakak saya sudah fokus mengurus ayah yang sakit struk dan tidak
bisa membereskan drinya sendiri dan mengurus adik saya yang saat itu masih
berusia 5 tahun.
Oleh karena itu semua kegiatan dirumah selama saya
tidak sekolah saya ikut membereskannya. Dan ketika sekolah saya berusaha untuk
fokus dan sungguh-sungguh karena saya berjanji kepada diri saya dan ayah saya
untuk nanti setelah lulus bisa bekerja mencari uang untuk kehidupan keluarga.
Adam sangat sayang sama ayahnya, sehingga apabila ada
waktu senggang ia selalu menemani ayahnya yang hanya bisa terbaring untuk
menghibur agar ayahnya senang, walaupun mungkin dalam hati kecilnya adam sangat
sedih melihat kondisi ayah yang sakit sedangkan biaya sangat terbatas untuk
mengobati penyakit ayah.
Memang adam, kakak dan adiknya tidak bisa melakukan
banyak hal dalam mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari,
tapi terkadang adam menyampi membuat desain logo, tulisan karikatur dan rekaman
music untuk sebuah drama, dimana penhasilannya belum begitu menjanjikan. Namun
bisalah oleh adam diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya
dan kebutuhan hari-hari dirumahnya.
Terkadang kakaknya adam berjualan kecil-kecilan ketika
ada bazaar atau pasar malam di lingkungan sekitar dengan bantuan pinjaman modal
yang kemudian setelah selesai di bayar. Keuntungannya baru digunakan untuk
biaya kehidupan sehari-hari.
Alhamdulillah keluarga adam juga selalu mendapat
perhatian dari tetangga dan keluarga yang berada di sekitar rumah adam,
misalnya saja setiap hari ada saja yang mengantar makanan, apakah itu lauk pauk
atau sayuran, sehingga oleh kakak adam di atur sedemikian rupa sehingga cukup
untuk ayah, adik yang kecil dan adam ketika pulang sekolah.
Kehidupan yang begitu berat adam jalani dengan hidup
apa adanya, tidak ada terpikirkan oleh adam untuk bisa berlibur atau
bersenang-senang bersama teman-temannya. Walaupun seringkali adam diajak oleh
teman di sekolah, karena adam termasuk anak yang pintar dan cerdas, sering
membantu menyelesaikan pekerjaan teman-temannya, adam lebih memilih pulang
kerumah dan membantu membereskan pekerjaan apa saja yang ada dirubah yang belum
sempat di kerjakan oleh kakaknya. Bukannya kakak perempuanya adam tidak mau
bekerja, karena kondisi ayah yang sakit dan adiknya juga tidak bisa di tinggal
oleh karena itu ia memilih untuk dirumah saja. Dan mereka saling membantu
bekerja sama membereskan dan menhadapi ini semua berempat.
Sekolah tinggal satu tahun lagi dan adam sangat
berharap bisa dapat langsung bekerja di perusahaan yang sesuai dengan jurusan
yang sekarang sedang adam jalani sehingga dapat membantu meringankan beban
keluarga dan tidak begitu tergantung pada saudara atau belas kasihan tetangga.
Oleh karena itu adam tidak pernah putus asa dan selalu
berdoa agar selalu di beri kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kehidupan
ini, yang menurut adam sangat berat kehidupan yang ia jalani.
Ibu pergi, ayah sakit, tidak menemukan kasih sayang
dari orang tua, mungkin ibu saya pergi saat itu disebabkan karena bosan dengan
kehidupan yang pas-pasan, hidup serba kekurangan, anak sedang membutuhkan biaya
yang cukup besar untuk sekolah, walaupun sekolah sudah gratis, namun tetap saja
harus menyediakan uang saku dan kebutuhan lainnya.
Oleh karena itu saya berjanji akan membahagiakan ayah,
kakak dan adik saya dulu baru saya bisa berfikir untuk membahagiakan diri saya
sendiri.
Responden kedua saya yang bisa saya wawancarai yakni dari kalangan kelas
social atas. Bernama Aancadini wijayanti. Lahir di Dumai di kepulauan Riau. Dia
anak pertama dari tiga bersaudara perempuan semua, Ayah bekerja di Perusahaan
Minyak sedangkan Ibunya sebagai Guru di SMK. Saat ini biasa di panggil ancha
kuliah di YARSI jurusan kedokteran . Adiknya yang kedua kuliah di TRISAKTI
jurusan kedokteran gigi dan adik yang paling kecil di SMAN 8 Jakarta. Ancha dan
keluarganya saat in sudah tinggal di jakarta, karena sempat pada awalnya
tinggal di Dumai, karena tuntutan pekerjaan dari ayahnya yang bekerja di
perusahaan minyak sempat harus berpindah-pindah tempat tugas dan akhirnya
ketika di Jakarta ibunya ancha memutuskan untuk membeli rumah dan menetap di
jakarta serta status gurunya pun akhirnya di pindahkan ke jakarta.
Kehidupan ancha dan keluarganya berada di kelas social
atas karena berdasarkan tingkat penghasilan ayah dan ibunya yang sudah PNS
hampir setiap bulan mendapatkan penghasilan yang besar dengan anak yang di
tanggung hanya 3 orang.
Sehingga orang tua ancha mampu membiayai anak-anaknya
masuk ke universitas yang bergengsi dan memilih jurusan yang membutuhkan biaya
yang cukup besar. Namun kehidupan ancha tidak menunjukkan kehidupan yang
bergaya kelas atas, keluarga, ayah dan ibunya mendidik dengan cara dan pola
hidup yang sederhana, walaupun pergi ke mall, berlibur keluar negeri merupakan
salah satu yang diagendakan dalam kegiatan keluarga, namun semuanya itu
dilakukan dalam batas kewajaran saja, tidak lantas berhura-hura, karena ayah
dan ibu ancha menekankan pada kehidupan agama yang kuat, dan selalu mengajarkan
kepada anak-anaknya untuk hidup sederhana.
Hubungan ancha dengan ayahnya memang agak terbatas,
disebabkan karena ayah yang lebih banyak menjalankan aktivitas di luar Jakarta,
namun dengan kondisi seperti itu ayah ancha menyadari ketika waktu di Jakarta
banyak dihabiskan waktu bersama keluarga sehingga kebutuhan itu dapat
terpenuhi, sedangkan ibu ancha yang bekerja sebagai guru masih mampu mengatur
dan mengarahkan anak-anaknya, apalagi disaat suaminya sedang dinas keluar
Jakarta, maka ibunya ancha sangat berperan dalam kehidupan di rumah.
Beruntungnya ancha dan adik-adiknya berjenis kelamin
perempuan semua, sehingga ibunya pun merasa memiliki kemudahan dalam menghadapi
ketiga putrinya tersebut, sehingga ketika dalam mengarakan universitas dan
jurusan apa yang akan dipilih sudah sangat disesuaikan dengan kedepannya nanti
mereka harus bagaimana.
Dan jurusan dokter menurut ancha dan ibunya adalah
salah satu jenis pekerjaan yang bisa di lakukan di rumah sambil mengurus anak dan keluarga tanpa harus jadi wanita
karir yang bisa menghabiskan waktu banyak di luar rumah sehingga anak dan
keluarga bisa terabaikan. Karena ketika di suruh menjadi guru yang bekerjanya
pun lebih fleksibel ancha tidak berminat, sehingga ayah dan ibunyapun
menyetujui pilihan menjadi dokter, karena tidak begitu juga terikat dengan
pekerjaan.
Waktu-waktu senggang ancha lebih banyak dihabiskan
bersama keluarga dan belajar, karena selain ayah yang waktunya banyak
dihabiskan dalam bekerja dan juga jurusan yang ancha pilih adalah kedokteran
dimana tingkat kesulitan belajarnya cukup tinggi dan membutuhkan ketekunan,
oleh karena itu ancha lebih senang dirumah dari pada harus pergi dengan
teman-teman yang tujuannya kurang pasti.
Ancha merasa ayah dan ibunya sangat berpengaruh dalam
kehidupannya sampai saat ini, hingga ia bisa kuliah di jurusan kedoketran, oleh
karena itu ia sangat ingin menyelesaikan studinya dan dapat mempersembahkan
segala kehidupannya untuk ayah dan ibunya. Begitulah penuturan ancha yang
sangat saying dan cinta kepada ayah, ibu dan adik-adiknya.
Begitulah wawancara singkat saya dengan responden
kelas atas yakni ancha dan kelas bawah adam. Kedua responden saya sangat
antusias dimana mereka sangat terbuka dan mau menceritakan apa adanya kehidupan
keluarga mereka.
Adam yang walaupun beban kehidupannya cukup berat tapi
masih berusaha untuk optimis menjalankan kehidupannya, sedangkan ancha yang
secara ekonomi memiliki kemampuan lebih namun karena didikan dan pola asuh
orang tua yang mengajarkan pola hidup sederhana, maka Nampak terlihat
biasa-biasa saja dan seolah-olah lebih hati-hati karena apa yang di dapat hanya
bersifat sementara dan belum tentu milik kita seutuhnya, oleh karena itu dari
hasil wawancara diatas banyak manfaat dan hikmah yang bisa diambil, dan membuat
saya semakin sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan yang harus terus di hadapi
dan jalani.