Kamis, 28 Mei 2015

Kamis, 28 Mei 2015

Di awali pagi ini  biasa rutinitas yang saya lakukan yaitu bangun pagi, kemudian sholat subuh, tidak lupa membangunkan anak dan suami saya ..... kemudian setelah itu bersiap untuk berangkat ke sekolah karena terjadwal hari ini saya mengajar jam pertama di kelas 7-A di SMP Negeri 33 di manggarai.

Sampai di sekolah tidak lama bel berbunyi, namun saya sempatkan terlebih dahulu untuk say hallo dengan teman-teman yang ada di ruang guru dan tak lupa membuat teh hangat yang sudah di sediakan di dapur ruang guru.

Setelah itu saya bergegas masuk kelas dengan membawa laptop dan buku pegangan Bimbingan Konseling. Sampai di kelas pembiasaan yang dilakukan siswa-siswa adalah membaca doa bersama untuk belajar hari ini dan saya tak lupa menjawab salam anak-anak yang mereka sampaikan diakhir membaca doa.

Setelah itu saya mengabsen dan menyapa anak-anak dengan "bagaimana kabar hari ini" kemudain dengan sedikit sambutan dari anak-anak saya lanjutkan materi hari ini dengan menanyakan tentang tugas yang sudah di bagikan minggu lalu ....

Ternyata ..... anak-anak memang susah untuk di mengerti dan di pahami, walaupun anak 7-A dinilai memiliki kemampuan intelektual yang lebih baik di bandingkan dengan kelas lain namun ketika diminta kewajibannya dalam hal pembelajaran tetap saja tidak selesai mengerjakan dan akhirnya meminta waktu tambahan untuk menyelesaikan tugas tersebut ....

Terkadang dengan beraht hati memberikannya karena saya berkeinginan sekali untuk bisa melanjutkan ke pembahasan berikutnya ... namun apa daya memang kondisi di sekolah saya seperti itu, dan akhirnya di berikan waktu beberapa menit, baru saya bisa melanjutkan  pembahasan berikutnya. dan sudah jelas waktu untuk memjelaskan berkurang dan akhirnya saya mengambil jam berikutnya demi menyudahi kegiatan mengajar saya.

Demikianlah kegiatan pagi ini ... semoga saya bisa memaknai pagi ini .....
trima kasih

Kamis, 21 Mei 2015

Kelas Sosial


 Pengelompokan kelas social yang terbagi saat ini adalah kelas social atas dan kelas social bawah, dimana pembagian tersebut tanpa disadari sangat terlihat mencolok, apalagi di dukung dengan tayangan-tayangan di televisi yang semakin memperkuat perbedaan tersebut.
Tayangan di televisi  yang sering mengangkat tema-tema kurang mendidik cenderung akan merusak generasi penerus bangsa. Tayanga tersebut banyak sekali yang mencerminkan tayanga-tayangan yang negative, contohnya sinetron-sinetron yang sering menceritakan kehidupan-kehidupan yang cenderung tidak masuk akal dan membuat para pemirsanya (anak-anak) ingin mengikuti penampilan dan cerita yang ada, sehingga banyak bermunculan anak-anak yang bersikap dan bertingkah laku tidak sesuai dengan etika dan norma-norma yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, karena pada penayangan sinetron tersebut itu yang di munculkan.
Sehingga  ketika anak-anak tersebut tidak mampu memenuhi keinginan yang mereka lihat dari televisi dan orang tua mereka pun tidak bisa memenuhinya maka banyak lha terjadi kriminalitas dan peristiwa-peristiwa yang akhirnya merusak masa depan generasi muda tersebut.
Oleh karena itu selaku orang tua harus sangat waspada terhadap apa yang di tayangkan oleh televise agar kehidupan generasi muda kita tidak hancur karena tayangan televise yang tidak mendidik dan kurang pengawasan yang sangat ketat dari pemerintah , dimana dampaknya sangat merusak para generasi muda kita.
Mengingat pada matakuliah konseling multikultur yang saat sedang membahas kelas social, dimana kelas social itu bisa dibagi dalam 3 kategori yaitu kelas social bawah, kelas social menengah dan kelas social atas.
Adapun yang menjadi pembahasan menarik yaitu kelas social atas dan bawah, oleh karena itu akan dilakukan pembahasan berupa melakukan wawancara dengan klien yang berasal dari kelas atas dan kelas bawah.
Pada paparan kali ini saya mewawancarai kalangan kelas bawah yang bernama Adam Suja, ia lahir dan di besarkan di lingkungan keluarga yang memprihatinkan. Adam terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, walaupun ayah dan ibu adam hanya memiliki anak 3 namun kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Ayahnya adam bekerja hanya sebagai pendongeng panggilan, sedangkan ibunya adam hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Seiringnya waktu berjalan usia adam menjelang 15 tahun dan sedang duduk dibangku SMP  ibunya adam memilih untuk pergi dari kehidupan keluarga adam, karena ibunya sudah hampir setahun ini bekerja di asuransi yang niatnya untuk membantu perekonomian keluarga, sehingga ibunya asik bekerja hingga larut malam.
Awalnya adam merasa memang ibunya bekerja jadi tidak ada yang harus di curigai, namun pada satu hari tersebut ibunya memutuskan untuk meninggalkan suami dan ketiga anaknya. Ibunya adam tidak menitipkan pesan atau member penjelasan secara terbuka kepada ketika anaknya. Sehingga sampai saat ini adam tidak tahu persis alasan mengapa ibunya begitu saja meninggalkannya.
Sampai beberapa bulan di tinggal ibunya, akhirnya ayahnya adam jatuh sakit dan struk, semakin menambah kehidupan di keluarga adam semakin sulit. Ibu pergi entah  kemana dan akan di cari kemana tidak tahu.
Keluarga dan tetangga hanya bisa mengucap kasihan dan membantu keluarga alakadarnya. Pada saat itu adam akan menghadapi ujian kelas 9 (Ujian SMP). Namun adam tetap berusaha focus dan konsentarasi menghadapi ujian tersebut, karena dengan begitu ini merupakan jalan untuk membantu meringankan kehidupan dikeluarga, dan apabila mendapat sekolah negeri adam berjanji akan sekolah yang benar dan sungguh-sunggu dan member pengobatan pada ayah yang sedang sakit.
Kehidupan adam tersu berjalan dan Alhamdulillah saya diterima disekolah negeri SMK Negeri 34 Jakarta jurusan multimedia. Dalam menjalankan kehidupan saya selain membantu membereskan kegiatan di rumah, walaupun sebagai anak laki-laki, tidak segan-segan saya untuk menyapu, mengepel, mencuci pakaian, cuci piring dan sebagainya ketika saya sedang dirumah, karena kakak saya sudah fokus mengurus ayah yang sakit struk dan tidak bisa membereskan drinya sendiri dan mengurus adik saya yang saat itu masih berusia 5 tahun.
Oleh karena itu semua kegiatan dirumah selama saya tidak sekolah saya ikut membereskannya. Dan ketika sekolah saya berusaha untuk fokus dan sungguh-sungguh karena saya berjanji kepada diri saya dan ayah saya untuk nanti setelah lulus bisa bekerja mencari uang untuk kehidupan keluarga.
Adam sangat sayang sama ayahnya, sehingga apabila ada waktu senggang ia selalu menemani ayahnya yang hanya bisa terbaring untuk menghibur agar ayahnya senang, walaupun mungkin dalam hati kecilnya adam sangat sedih melihat kondisi ayah yang sakit sedangkan biaya sangat terbatas untuk mengobati penyakit ayah.
Memang adam, kakak dan adiknya tidak bisa melakukan banyak hal dalam mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari, tapi terkadang adam menyampi membuat desain logo, tulisan karikatur dan rekaman music untuk sebuah drama, dimana penhasilannya belum begitu menjanjikan. Namun bisalah oleh adam diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya dan kebutuhan hari-hari dirumahnya.
Terkadang kakaknya adam berjualan kecil-kecilan ketika ada bazaar atau pasar malam di lingkungan sekitar dengan bantuan pinjaman modal yang kemudian setelah selesai di bayar. Keuntungannya baru digunakan untuk biaya kehidupan sehari-hari.
Alhamdulillah keluarga adam juga selalu mendapat perhatian dari tetangga dan keluarga yang berada di sekitar rumah adam, misalnya saja setiap hari ada saja yang mengantar makanan, apakah itu lauk pauk atau sayuran, sehingga oleh kakak adam di atur sedemikian rupa sehingga cukup untuk ayah, adik yang kecil dan adam ketika pulang sekolah.
Kehidupan yang begitu berat adam jalani dengan hidup apa adanya, tidak ada terpikirkan oleh adam untuk bisa berlibur atau bersenang-senang bersama teman-temannya. Walaupun seringkali adam diajak oleh teman di sekolah, karena adam termasuk anak yang pintar dan cerdas, sering membantu menyelesaikan pekerjaan teman-temannya, adam lebih memilih pulang kerumah dan membantu membereskan pekerjaan apa saja yang ada dirubah yang belum sempat di kerjakan oleh kakaknya. Bukannya kakak perempuanya adam tidak mau bekerja, karena kondisi ayah yang sakit dan adiknya juga tidak bisa di tinggal oleh karena itu ia memilih untuk dirumah saja. Dan mereka saling membantu bekerja sama membereskan dan menhadapi ini semua berempat.
Sekolah tinggal satu tahun lagi dan adam sangat berharap bisa dapat langsung bekerja di perusahaan yang sesuai dengan jurusan yang sekarang sedang adam jalani sehingga dapat membantu meringankan beban keluarga dan tidak begitu tergantung pada saudara atau belas kasihan tetangga.
Oleh karena itu adam tidak pernah putus asa dan selalu berdoa agar selalu di beri kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kehidupan ini, yang menurut adam sangat berat kehidupan yang ia jalani.
Ibu pergi, ayah sakit, tidak menemukan kasih sayang dari orang tua, mungkin ibu saya pergi saat itu disebabkan karena bosan dengan kehidupan yang pas-pasan, hidup serba kekurangan, anak sedang membutuhkan biaya yang cukup besar untuk sekolah, walaupun sekolah sudah gratis, namun tetap saja harus menyediakan uang saku dan kebutuhan lainnya.
Oleh karena itu saya berjanji akan membahagiakan ayah, kakak dan adik saya dulu baru saya bisa berfikir untuk membahagiakan diri saya sendiri.
Responden kedua saya yang bisa  saya wawancarai yakni dari kalangan kelas social atas. Bernama Aancadini wijayanti. Lahir di Dumai di kepulauan Riau. Dia anak pertama dari tiga bersaudara perempuan semua, Ayah bekerja di Perusahaan Minyak sedangkan Ibunya sebagai Guru di SMK. Saat ini biasa di panggil ancha kuliah di YARSI jurusan kedokteran . Adiknya yang kedua kuliah di TRISAKTI jurusan kedokteran gigi dan adik yang paling kecil di SMAN 8 Jakarta. Ancha dan keluarganya saat in sudah tinggal di jakarta, karena sempat pada awalnya tinggal di Dumai, karena tuntutan pekerjaan dari ayahnya yang bekerja di perusahaan minyak sempat harus berpindah-pindah tempat tugas dan akhirnya ketika di Jakarta ibunya ancha memutuskan untuk membeli rumah dan menetap di jakarta serta status gurunya pun akhirnya di pindahkan ke jakarta.
Kehidupan ancha dan keluarganya berada di kelas social atas karena berdasarkan tingkat penghasilan ayah dan ibunya yang sudah PNS hampir setiap bulan mendapatkan penghasilan yang besar dengan anak yang di tanggung hanya 3 orang.
Sehingga orang tua ancha mampu membiayai anak-anaknya masuk ke universitas yang bergengsi dan memilih jurusan yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun kehidupan ancha tidak menunjukkan kehidupan yang bergaya kelas atas, keluarga, ayah dan ibunya mendidik dengan cara dan pola hidup yang sederhana, walaupun pergi ke mall, berlibur keluar negeri merupakan salah satu yang diagendakan dalam kegiatan keluarga, namun semuanya itu dilakukan dalam batas kewajaran saja, tidak lantas berhura-hura, karena ayah dan ibu ancha menekankan pada kehidupan agama yang kuat, dan selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk hidup sederhana.
Hubungan ancha dengan ayahnya memang agak terbatas, disebabkan karena ayah yang lebih banyak menjalankan aktivitas di luar Jakarta, namun dengan kondisi seperti itu ayah ancha menyadari ketika waktu di Jakarta banyak dihabiskan waktu bersama keluarga sehingga kebutuhan itu dapat terpenuhi, sedangkan ibu ancha yang bekerja sebagai guru masih mampu mengatur dan mengarahkan anak-anaknya, apalagi disaat suaminya sedang dinas keluar Jakarta, maka ibunya ancha sangat berperan dalam kehidupan di rumah.
Beruntungnya ancha dan adik-adiknya berjenis kelamin perempuan semua, sehingga ibunya pun merasa memiliki kemudahan dalam menghadapi ketiga putrinya tersebut, sehingga ketika dalam mengarakan universitas dan jurusan apa yang akan dipilih sudah sangat disesuaikan dengan kedepannya nanti mereka harus bagaimana.
Dan jurusan dokter menurut ancha dan ibunya adalah salah satu jenis pekerjaan yang bisa di lakukan di rumah sambil mengurus  anak dan keluarga tanpa harus jadi wanita karir yang bisa menghabiskan waktu banyak di luar rumah sehingga anak dan keluarga bisa terabaikan. Karena ketika di suruh menjadi guru yang bekerjanya pun lebih fleksibel ancha tidak berminat, sehingga ayah dan ibunyapun menyetujui pilihan menjadi dokter, karena tidak begitu juga terikat dengan pekerjaan.
Waktu-waktu senggang ancha lebih banyak dihabiskan bersama keluarga dan belajar, karena selain ayah yang waktunya banyak dihabiskan dalam bekerja dan juga jurusan yang ancha pilih adalah kedokteran dimana tingkat kesulitan belajarnya cukup tinggi dan membutuhkan ketekunan, oleh karena itu ancha lebih senang dirumah dari pada harus pergi dengan teman-teman yang tujuannya kurang pasti.
Ancha merasa ayah dan ibunya sangat berpengaruh dalam kehidupannya sampai saat ini, hingga ia bisa kuliah di jurusan kedoketran, oleh karena itu ia sangat ingin menyelesaikan studinya dan dapat mempersembahkan segala kehidupannya untuk ayah dan ibunya. Begitulah penuturan ancha yang sangat saying dan cinta kepada ayah, ibu dan adik-adiknya.
Begitulah wawancara singkat saya dengan responden kelas atas yakni ancha dan kelas bawah adam. Kedua responden saya sangat antusias dimana mereka sangat terbuka dan mau menceritakan apa adanya kehidupan keluarga mereka.
Adam yang walaupun beban kehidupannya cukup berat tapi masih berusaha untuk optimis menjalankan kehidupannya, sedangkan ancha yang secara ekonomi memiliki kemampuan lebih namun karena didikan dan pola asuh orang tua yang mengajarkan pola hidup sederhana, maka Nampak terlihat biasa-biasa saja dan seolah-olah lebih hati-hati karena apa yang di dapat hanya bersifat sementara dan belum tentu milik kita seutuhnya, oleh karena itu dari hasil wawancara diatas banyak manfaat dan hikmah yang bisa diambil, dan membuat saya semakin sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan yang harus terus di hadapi dan jalani.